Wednesday, December 31, 2008

B:Beer (by Freddy Sinurat)

- Originally posted by Freddy Sinurat to SMANSA90 mailing list on December 30, 2008, 7:58 PM -

Pagi itu Bang Andi masuk kelas dengan membawa sekaleng bir beserta satu sedotan. Tak sabar kami menunggu saat yang tepat untuk menikmatinya. Les pertama masih terlalu pagi untuk minum bir, les kedua juga, rasanya kurang beradab. Barulah pada pergantian guru les ketiga kami beraksi memulai prosesi.

Pssssssst... takk! Merdu terdengar nyanyian gas yang berlompatan menerobos keluar dari mulut kaleng disusul oleh bunyi lepasnya pembuka kaleng yang ditarik perlahan, lamat-lamat, dengan penuh perasaan, oleh Bang Andi. Sementara aku yang segera diliputi oleh rasa haru memegang sedotan plastik bagaikan penyihir memegang tongkat sihirnya. Dengan takzim aku menunggu Bang Andi memasukkan kaleng bir yang sudah terbuka itu ke dalam laci meja. Aromanya pun mulai merebak menjanjikan kenikmatan. Bang Andi memposisikan mulut kaleng persis dibawah lubang kecil yang terdapat di meja, mungkin sengaja dibikin oleh para pendahulu untuk maksud dan tujuan yang sama. Proses ku lanjutkan dengan memasukkan sedotan ke lobang meja menembus hingga ke dalam kaleng yang terisi penuh dengan bir. Sukses! Kami pun saling melemparkan senyum, terlihat begitu jahat dengan sepasang tanduk kecil seolah tumbuh di kepala kami.

Demikianlah kami dengan penuh keakraban secara bergantian menyedot bir itu, masing-masing mereguk porsi yang seimbang, sembari menyimak pelajaran pada les ketiga. Tidak mudah memang, posisi kaleng bir di laci meja menyebabkan bagian sedotan yang keluar dari lubang meja menjadi terlalu pendek. Kami mesti menunduk serendah-rendahnya supaya bibir ini dapat menjangkau sedotan. Sementara itu kedua tangan harus memegang buku yang dibuka sedemikian rupa agar memberikan kesan betapa seriusnya kami membaca. Pada saat yang bersamaan mata harus diarahkan mengawasi sang guru yang mengajar di depan kelas untuk mengamankan perbuatan kami yang duduk di bangku terdepan, hanya beberapa langkah darinya. Susah membayangkan seperti apa wajah kami saat melakukan semua itu. Benar-benar mengharukan!

Di tengah keharuan itulah, dua kawan di belakang kami memulai aksinya dengan memprotes dan mendemonstrasikan tampang marah yang serius disertai dengan lontaran rupa-rupa ancaman. Ternyata aroma bir telah menyengat hidung mereka. Situasi berubah drastis bagaikan hura-hura yang berganti menjadi huru hara. Susah kami jadinya karena harus menentramkan tetangga kami yang cantik itu yang sepertinya benar-benar tersinggung oleh perbuatan kami. Terbukti, hingga nyaris 20 tahun kemudian kejadian itu masih saja diingatnya dan disimpannya dalam lubuk hatinya yang terdalam pula. Dalamnya laut bisa diukur, dalamnya hati siapa yang tahu?

Peristiwa ini mengingatkan kami akan pentingnya kepedulian kepada tetangga. Kami lupa adat istiadat orang Timur yang biasa berbagi dengan tetangga. Mestinya Bang Andi membawa 2 kaleng bir. Sedotan cukup satu saja tidak apa.

Moral dari pengalaman ini: berbagilah dengan tetangga atau mereka akan menyusahkanmu.

Selamat Tahun Baru 1 Januari 2009 !

:)
Freddy

No comments: